Berkebun di laut, Konservasi dan kepedulian MRL untuk Tidung

Program Studi Manajemen Resort dan Leisure, kembali melaksanakan Praktik Lapangan Mata Kuliah Wisata Bahari di Pulau Tidung Kecamatan Kepulauan Seribu pada tanggal 9-12 Desember 2014. Kegiatan ini dilakukan oleh Mahasiswa angkatan 2012 dengan dosen pembimbing Bapak Prof. Dr. Darsiharjo dan Bapak Reiza Miftah Wirakusuma M.Sc. Topik kali ini mengangkat tema konservasi terumbu karang yang terintegrasi dengan aktivitas wisata snorkeling. Integrasi ini merupakan suatu wujud kepedulian mahasiswa Prodi MRL untuk melestarikan terumbu karang yang rusak di sekitar perairan Pulau Tidung khususnya di Tidung Kecil. Setelah melalui observasi singkat, faktor kerusakan terumbu karang tersebut salah satunya adalah dari aktifitas wisata snorkeling. Hal ini juga menjadi perhatian karena minat wisatawan yang melakukan aktifitas tersebut sangat besar, sehingga operator/ pemandu wisata yang membawa wisatawan seringkali kewalahan. Satu grup wisatawan yang akan snorkeling dapat mencapai 20-30 orang/ perahu sehingga ketika snorkeling dalam satu waktu, banyak yang tidak sadar menyentuh terumbu karang yang rapuh. Masyarakat Pulau Tidung, telah sadar bahwa jika hal ini berlanjut tanpa ada konservasi, maka keanekaragaman hayati laut tidung akan hilang. maka dari itu, salah satu tokoh masyarakat yaitu bapak Erik Suhardi membentuk kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) dan Penjaga Terumbu Karang (Foto di Atas). Beliau senantiasa setiap hari berpatroli dan menanam kembali terumbu karang. Selain itu, beliau aktif mengajak para nelayan Tidung untuk menjadi anggota POKMASWAS, yang saat ini telah berjumlah 20 orang sejak tahun 2013. Program Pengabdian Kepada Masyarakat Prodi MRL bertujuan membantu Bapak Erik Suhardi dalam mengintegrasikan Penanaman Terumbu Karang dan Wisata Bahari. Program tersebut berjudul “Coral Gardening” sehingga wisatawan dapat menanam tunas terumbu karang langsung dengan hanya membayar Rp.25.000 – Rp.30.000 saja. Tujuan yang lebih luas adalah: 1. Masyarakat mendapat tambahan penghasilan dari penjualan tunas; 2. Konservasi Sumber Daya Laut secara swadaya oleh Masyarakat; 3. Aspek Edukasi biota laut dapat disampaikan kepada wisatawan; 4. Wisatawan diajak berpartisipasi kembali di lain kesempatan untuk melihat pertumbuhan karang sehingga menjadi Repeater Guests.

Leave us a Comment